Arwen Mendadak Pemarah
![]() Sebulan sudah Arwen ditinggal pergi Papin. Awalnya tak terlihat perubahan sikap pada dirinya. Arwen tahu Papin pergi dan bersikap santai saja. Tapi sudah beberapa hari ini, Mamin perhatikan Arwen mengalami perubahan attitude yang cukup signifikan. Pokoknya gak Arwen banget lah! We really know, she's such a nice girl, gampang dikasihtau, mudah diberi pengertian, bukan tipikal pembangkang dan ngeyelan. Tiba-tiba mendadak sontak, ia berubah jadi anak yang pemarah, sulit dikasihtau, terkadang marah-marah pada benda mati seperti pintu, banting-banting pintu, nendangin Leia, jadi agresif, galak dan sangat takut kehilangan Mamin, Mamin ngilang dikit ke kamar mandi dia rewel, apa-apa maunya sama Mamin. Sementara Mamin juga harus megang dan ngurusin adek Leia...phhuuiihhh kebayang kan, berapa ekstra energi kesabaran yang dibutuhkan Mamin? Gejala-gejala baru ini bermunculan seiring berjalannya waktu. Awalnya Mamin gak ngeh dan gak sabar menghadapi tingkahnya, aktivitas ganti baju aja bisa menguras kesabaran Mamin, yang tadinya gak mau pake baju terus ambil baju sendiri terus marah-marah gak mau pake baju yang dipilihnya, pake nangis-nangis segala minta ganti bajunya. Pokoknya ribeuuuttt pisan deh!! *sabaaaarrr ya Mamin*. Atau tiba-tiba minta ice lemon tea di tengah malam buta dan kalo gak diambilin bisa ngamuk mbangunin orang sekampung....hikssss Poor Arwen! Akhirnya Mamin sadar sumthin' wrong with her, with her heart, with her feeling. Dan Mamin mendiskusikan hal ini dengan Papin. Akhirnya kami berkesimpulan, mungkin Arwen sebenarnya merasakan ada yang hilang dan tidak memahami apa yang sedang terjadi - seseorang yang dekat dengannya tiba-tiba hilang dalam waktu yang cukup lama, yaitu Papin. Papin juga sempat ngobrol-ngobrol dengan om Bayu dan om Yos (yang sama-sama berangkat ke Kuwait dan kerja bareng Papin) tentang perubahan sikap Arwen. Ternyata gejala-gejala ini mirip dengan putri Bayu dan putri Yoswar. Walau putri-putri kami ini berada dalam jarak umur yang berjauhan (Arwen 2 tahun, Nida 4 tahun dan Salma 5 tahun), ketiganya menunjukkan pola sikap yang sama. Hanya saja sebagai yang terkecil, Arwen belum bisa mengungkapkan perasaannya atas apa yang sedang terjadi. Sementara Salma (putri Yoswar) sudah bisa mengungkapkan kesedihannya dalam bentuk tangisan dan email/SMS kepada ayahnya. Kegalauan, kesedihan, keganjilan ini yang sedang dihadapi Arwen. Hati mungilnya belum bisa merumuskan apa yang sedang terjadi di hadapannya. Sebagai yang terdekat dengan Arwen, Mamin harus selalu berada di dekatnya dan mempersiapkan kesabaran ekstra besar untuk menghadapi badai dari Arwen. Setelah baca-baca artikel di internet, gejala-gejala anak yang mengalami masalah 'kehilangan' orang tuanya : - Marah-marah - Memukul dan menendang - Sikap kasar - Sulit tidur - Kembalinya separation anxiety - Kembali menjadi baby dan manja - Aleman Nah tuh ada di Arwen semua! Hal-hal seperti ini bisa dihadapi dengan beberapa trik : - Orang tua diharapkan memiliki waktu untuk istirahat dan menyendiri sejenak. Maklum, untuk kondisi ini dibutuhkan tenaga untuk sabar dan tidak terpancing emosi/stress dihadapan sang anak. Seorang anak sangat sensitif dengan kondisi kejiwaan orang-orang di sekitarnya, terutama yang dia sayangi. Untuk itu Mamin terkadang menyempatkan diri untuk menghibur diri sendiri dengan cara pergi sendiri tanpa krucils. - Bantu sang anak untuk mengungkapkan perasaannya, dengan berkata-kata "Saya marah!" atau dengan coretan-coretan gambar. Hal ini untuk menyalurkan kegalauan dan kegoncangan emosi yang mengisi hati mungil sang anak. - Berusaha terus mengingatkan sang anak bahwa bapak/ibu nya selalu berada di dekatnya walau berjauhan. Tunjukkan gambar atau video dan selalu terus berkomunikasi. Hingga akhirnya sang anak merasa orang yang dia sayangi masih ada di dekatnya. Hal ini untuk meningkatkan kemampuannya dalam menghadapi situasi ini. - Salah satu orang tua yang berada di dekatnya harus terus memberikan sikap yang hangat dan sayang. Jika sebelumnya intensitas peluk cium tidak terlalu sering, maka saat salah seorang pergi jauh, intensitas ini harus semakin sering. Pada saat membuat postingan ini, Papin merasa bersalah banget membuat Arwen harus berada di situasi seperti ini. Sebuah penderitaan yang tidak layak dirasakan oleh hati mungilnya. Namun, ini adalah pembelajaran besar dan gemblengan bagi kami sebagai orangtua. Untuk Papin, untuk Mamin, untuk Arwen dan untuk Leia, hal seperti ini tentunya membawa hikmah tersendiri. Semoga kami bisa melewati ini semua dan kembali berkumpul seperti sedia kala. Ya, satu lagi pelajaran berharga tentang cara membesarkan seorang anak sedang diujikan pada kami. Thanks God! Link penting : http://findarticles.com/p/articles/mi_qn4188/is_20050620/ai_n14674745 http://www.cfs.purdue.edu/mfri/pages/news/parent_goes_to_war.htm http://www.scholastic.com/earlylearner/experts/behavior/3_5_clinging.htm http://content.scholastic.com/browse/article.jsp?id=768 |




Ngamen di Menteng - 29 Agustus 2006 21:35












































Comments on "Arwen Mendadak Pemarah"
-
figo said ... (Tuesday, 07 August, 2007) :
-
rita bellnad said ... (Thursday, 16 August, 2007) :
-
Rumah Cahaya said ... (Thursday, 16 August, 2007) :
-
titien irvianty said ... (Monday, 20 August, 2007) :
-
oni said ... (Monday, 27 August, 2007) :
-
oni said ... (Tuesday, 28 August, 2007) :
post a commentDear Dita,
Yang sabar yah dit, kadang kita orang dewasa suka tidak menyadari bahwa ada satu hati kecil yang sedang merasa kehilangan figure papinnya. Mudah"an ga berkepanjangan yah dit..Salam dari Farah & Figo
you really are a good mom, dit... kamu punya kesabaran luar biasa buat ngertiin apa yang terjadi sma Arwen. Well done mom
mamin arwen .. sabar ajah ...
kalow emosi kita ikutan naik pasti arwen-nya makin rewel deh ....
ghmm... 'sok teu' pasti mamin kangen mister pinsky juga kan ..;)
lah emosi anak ama bundanya getchu lo ..........
mamin jadi single parents sementara yak ...
mungkin jg baca baca referensi yg single parents ..
yah bersyukurlah jaman sekarang tekhnologi udah canggih masih bsa kangen kangenan melalui tekhnologi ......
(walow gw ga bisa atasi anak anakku untuk melepas rindu & kehilangan dg abinya melalui tekhnologi sampai saat ini ... :P )
tapi kita belajar banyak lo dari anak .. :)
Kita menjadi "KAYA" karena anak ...
selamat menikmati ..... salam toel buat arwen & leia :)
mamin... yang sabar yak!
emang keadaan mengharuskan kalian terpisah sementara, aku yakin kamu bisa survive. kamu kan super mommy...
mudah-mudahan dengan segala kesabaran kamu arwen bisa mereda. bisa dibayangkan kok sebesar apa rasa kangen nya sama sang papin..., hanya kita aja yang mungkin ga sesensitif dia.
arwen..., sabar ya nak....
duh sedih dengernya Dit... betapa kangennya dia ama bapaknya. Tapi itu membuktikan Dita dan Pinot telah mendidik Arwen jadi anak yg normal, berperasaan, punya rasa kangen & sayang ama ortunya, meskipun dia belom bisa ekspresiin dgn kata2.
Webcam-an tiap hari regular time gimana, Dit? Bantu banget buat anak2ku yg djundi melulu ada di Indo kl bisa denger suara bapaknya.
Hats off to you Dit, yg trying to maintain life as normal as possible for the kids selagi bapaknya sedang merantau. Sabar2in ya Dear. Persiapan udah sampai dimana? cari daku di YM yahh...
Dit, sorry tadi aku dah keburu pergi... keliling seharian ama anak2 mesti ke sekolahan, beli keset, dan pediatrician.
Jawabnya: iya, Vincent. Marah2, agresif, tendang2, uring2an dan juga sakit fisik (badan panas ga pake sebab). Bolak balik begitu sampai umur nya hampir 4. Trus kalo Djundi balik kesini, di airport anaknya ngga mau disentuh, ngga mau dicium, ga boleh disamperin, ga boleh dipeluk. Mungkin si Vincent takut, itu cuma imajinasi dia ato dia takut djundi pergi lagi jadi mendingan ngga attach. Besoknya, baru mau di pegang2 ama bapaknya.
Sekarang udah gedean, udah bisa dibilangin, udah ngerti, udah jauh mendingan. Kuncinya emang kesabaran aja dari kitanya, soalnya anak segitu ngga bisa dipaksa utk ngerti sampe akhirnya ngerti sendiri.
Kalo Nadia, dari kecil kayak udah ngerti. Ngga pernah ada drama hehe.
Take care, Dit.