My Photo
Name:

A father of Arwen the elf, Leia the princess & Neo the one.

A husband of Dita the fairy.

This is the adventure of growing Arwen. It's all documented in pictures, written diaries, video documentary and music clip. Hopefully Arwen's friends can enjoy her unique and magical adventures, and especially by Arwen herself when she's grown up. Enjoy her Magical Mystery Tour!







Free shoutbox @ ShoutMix

Image hosted by Photobucket.com



Ngamen di Menteng - 29 Agustus 2006 21:35









Total : 13417 viewers

Proyek Sayang Arwen. 1063 viewers. - View mp4 movie


Kebiasaan Tidur yang Ajaib. 1242 viewers. - View mp4 movie


Operasi Plastik. 3065 viewers. - View mp4 movie


Petualangan Arwen. 1655 viewers. - View mp4 movie


Image hosted by Photobucket.comGitar Mainan Murah Meriah. 147 viewers.


Image hosted by Photobucket.comArwen dengan aksi kecup-kecup imutnya. 130 viewers.


Image hosted by Photobucket.comTerapung-apung. 166 viewers. - View mp4 movie


Image hosted by Photobucket.comArwen Ajojing. 417 viewers. - View mp4 movie


Image hosted by Photobucket.comLenong Asoy. 161 viewers - View mp4 movie


Image hosted by Photobucket.comIklan Korban Sindo. 137 viewers - View mp4 movie


Image hosted by Photobucket.comArwen bak Godzilla obrak abrik dunia. 140 viewers - View mp4 movie


Image hosted by Photobucket.comArwen ditendang Naya tepat di wajah


Image hosted by Photobucket.comArwen, Naya, Sarah & Luthfi as Charlie's Angels


Image hosted by Photobucket.comAdegan seronok Arwen di atas Ranjang




Arwen Bobok Sambil Berdiri!

Kegedean Topi Caps-nya

Reading a Book

Jacuzzi in the Garden

Arwen Pakai Sepatu Mamin

Get emailed with every update to Arwen's Video!
Email:
Powered by

pinodita's Profile Page



Powered by Technorati


 
B&N.com









Powered by FeedBlitz

Add to Technorati Favorites!



Creative Commons License

Listed on BlogShares

Blog Directory & Search engine

Blog Flux Directory

blog search directory

 View My Public Stats on MyBlogLog.com

Blogarama - The Blogs Directory

Powered by Blogger

Barnes & Noble.com

Sunday, February 13, 2005

Menyapa Jiwa Anak-anak Kami

Sore itu saya mengajak Arwen, putri kami, dan suami berkunjung ke sebuah Plaza di wilayah Jakarta Selatan. Setelah berkemas-kemas dengan segambreng gembolan Arwen, kami memacu kendaraan menuju Plaza tersebut. Sesampai di sana, kami memutuskan untuk duduk-duduk sambil ngopi-ngopi saja di sebuah kedai kopi. Sambil menikmati secangkir Cafe Mocca panas, kami bercanda ria dengan putri kami, maklum Arwen sudah mulai senang bercanda dan tertawa-tawa.

Image hosted by Photobucket.com
Tak lama kemudian, terlihat sepasang suami istri datang dengan dua anak, satu berusia sekitar 5 tahunan, yang satu lagi masih bayi, beserta seorang baby sitter-nya. Mereka memilih duduk di samping meja kami. Saya bertemu pandang dengan sang Ibu dan melemparkan senyum, ia pun membalas senyum saya. Mereka kemudian asyik dengan aktifitas masing-masing. Kami terhanyut kembali dalam "pembicaraan" dengan Arwen. Tiba-tiba saya terusik dengan suara tangisan bayi. Saya palingkan kepala ke meja sebelah, ternyata si bayi memang menangis dan tampaknya agak mengamuk. Lima belas menit berlalu, dan tangisan sang bayi tak kunjung mereda. Si baby sitter terlihat sibuk dan bingung menenangkan bayi mungil itu. Gendong sana, gendong sini, bujuk sana, bujuk sini. Sementara itu, tahu apa yang dilakukan Ibunda tercinta? Tak tampak raut wajah risau dari mimik mukanya, asyik menyeruput secangkir kopi panas dan berbincang-bincang dengan suaminya. Hanyut dalam urusan mereka sendiri. Lima menit kemudian, entah karena sudah selesai urusannya, atau karena tak enak bayinya menangis terus, mereka memutuskan pergi. Saya dan suami hanya melongo saja memandangi kepergian suami istri itu, dengan sang baby sitter yang menggendong bayi, mengikuti di belakang mereka.

Saya kembali teringat, beberapa minggu yang lalu saya bersama suami berkunjung ke rumah rekan kerja suami saya. Sambutan tuan dan nyonya rumah cukup hangat. Sang istri dan saya terlibat pembicaraan khas ibu-ibu, biasalah soal rumah tangga, perawatan anak, dsb. Tiba-tiba terlihat putri kecilnya yang cantik berlari ke arah sang mama, bergelayut manja di pundak mamanya. Saya mengajak si kecil berbicara dan ia menjawabnya dengan mata berbinar. Tak lama, ia menarik-narik baju mamanya, minta diambilkan sepeda mini di sebelah mamanya. Si Ibu asyik berbincang dengan saya, sementara konsentrasi saya terpecah, merasa terganggu dengan rengekan sang anak yang tidak ditanggapi ibunya.

"Minta sama suster sana!" Sontak saya kaget mendengar kata-kata itu keluar dari mulut sang Mama. Saya bergumam dalam hati, "Hei, kamu Ibunya dan sepeda itu ada di sebelahmu! Apa susahnya mengambilkan sebentar untuk anakmu!" Yang membuat saya makin takjub, ia sempat berkeluh kesah, karena bayinya yang berusia 5 bulan sering rewel, sehingga membuatnya merasa pusing tak bisa tidur. Ia menyampaikannya dengan nada bicara seolah kehadiran sang bayi mengganggu kehidupannya. Tapi ia merasa beruntung memiliki baby sitter yang dapat mengurus dan mengatasi anak-anaknya.

Ingatan saya kembali berputar ke beberapa waktu silam, saat saya bersama teman sedang kongkow-kongkow di sebuah mal. Pandangan saya terhenti pada seorang Ibu muda yang kerepotan membawa barang-barang belanjaan hasil berburu diskonnya. Dua meter di belakangnya seorang baby sitter mendorong kereta bayi dengan seorang bayi cantik di dalamnya. Sang Ibu menghardik si baby sitter untuk berjalan lebih cepat. Trenyuh hati saya, sang Ibu lebih rela berberat-berat ria dengan barang belanjaannya dibandingkan menggendong atau mendampingi bayinya sendiri.

Dari kejadian-kejadian itu, yang terus berputar-putar dalam benak saya dan suami malam itu, hati saya tergelitik untuk melontarkan pertanyaan. Apakah ini sebuah kewajaran, menyerahkan sepenuhnya urusan anak kepada baby sitter, dengan asumsi mereka sudah membayar dan berhak menggunakan semaksimal mungkin jasa baby sitter? Istilah sekarangnya "ogah rugi." Seorang Ibu datang ke penyalur, minta baby sitter, bayar, pulang. Dan baby sitter bertugas mengurusi semuanya, dari mengganti popok, memberi makan anak, menenangkannya jika rewel dan mengamuk. Anak menangis, tinggal teriak, "suster!" dan suster pun datang. Instan sekali! Ibu hanya tahu beres saja. Lalu tugas Ibu sebagai orangtua di mana? Apakah rasa cinta itu hanya ditunjukkan dengan mencukupi segala kebutuhan materi sang anak semata? Asal semua kebutuhan fisiknya cukup, ada baby sitter yang mengurus semua kebutuhannya, ya sudah! beres semua kan?!

Ok, katakanlah mereka orang sibuk, sehari-hari bekerja, berangkat pagi dan pulang malam di kala dalam kedua waktu tersebut sang buah hati tertidur lelap. Tapi tak ada salahnya toh, di akhir pekan mereka meluangkan waktu yang sangat berharga itu dengan buah hati mereka tanpa sepenuhnya "direcoki" baby sitter? Apa susahnya sih mendekap bayi mereka sendiri dengan penuh cinta? Apa susahnya membelai dengan lembut kulit mereka yang halus? Mengisi jiwanya dengan canda tawa, menenangkan tangisannya dengan mata kita yang berbinar-binar, bersyukur memiliki anugerah terindah seperti mereka.
Tidakkah terpikir dalam benak-benak mereka, akan jadi apa anak-anak mereka suatu hari nanti? sadarkah mereka bahwa anak-anak mereka tak pernah tersentuh jiwa dan fisiknya oleh orangtua mereka sendiri?

Saya sendiri bukan pengguna jasa baby sitter, karena saya memutuskan berhenti bekerja dan memilih untuk mengurus dan mengasuh anak saya sendiri. Pengorbanan yang sangat sangat berarti hasilnya bagi saya. Pengorbanan yang terbayar dengan senyum kecil yang menghiasi wajah our little precious. Akan tetapi saya juga tidak menyalahkan para orangtua yang karena suatu hal atau keadaan harus menggunakan jasa baby sitter. Hanya saja, sebaiknya kita menjadi bijaksana dalam mengasuh buah hati kita.

Terlalu naifkah saya memandang semua ini, memandang ke-instan-an ini? Membayangkan suatu hari nanti generasi anak-anak kita menjadi orang-orang yang tak punya hati, generasi yang tidak "beres" tingkah lakunya. Jangan salahkan mereka, anak-anak ini!
Dan malam itu, ketika peri kecil kami telah tidur, saya mengecup pipinya sambil berbisik dalam lelapnya, "Mommy tak akan membiarkan jiwamu hampa, Nak."

Image hosted by Photobucket.com
"If we could raise one generation with unconditional love, there would be no Hitlers. We need to teach the next generation of children from Day One that they are responsible for their lives. Mankind's greatest gift, also its greatest curse, is that we have free choice. We can make our choices built from love or from fear."
(Dr. Elizabeth Kubler-Ross)



Comments on "Menyapa Jiwa Anak-anak Kami"

 

Anonymous Anonymous said ... (Monday, 14 February, 2005) : 

mum tian :

saya salah satu pengguna jasa baby sitter ini,
tapi saya sangaaatt menyayangi anak saya.
kadang2 saya juga teriak "susterr.. untuk membantu saya"
tapi biarpun begitu, Tian tetap lengket ma saya.

dan saya percaya, enngak ada seorangpun di dunia ini yang enngak sayang ma anaknya, darah dagingnya sendiri.

biarpun sikap ibu2 seperti itu, mungkin ada beberapa maksud yang tidak kita mengerti.

waaahh kalo ketemu ma mama arwen di mall, aku lg pegang belanjaan, suster lg gendong Tian, jgn anggap aku enngak care yah ma Tian ... heiheuhue.

dat is just my humble opinion.

 

Anonymous Anonymous said ... (Tuesday, 15 February, 2005) : 

Ini tante jane:
That's a great article..
Gw juga pernah nemuin hal yang sama. Lagi di mal juga, anaknya dah jejeritan, maminya nyantai aja liat2 furniture.. baby sitternya bingung..
Another good advise, for my future life..

 

Blogger jojo said ... (Tuesday, 15 February, 2005) : 

salut buat mommynya Arwen yang rela ngelepasin karir demi arwen.

saat ini sayapun memangkas hari kerja saya menjadi hanya 3 hari dalam seminggu demi Damartimur Nagara (3 tahun 10 bulan), our lovely adopted son.

lam kenal. saya tahu blog ini dari WRM Indonesia. Dan, setelah baca-2 postingannya: we have a lot of things in common. Saya pernah bekerja di tv swasta (jangan-2 tv yang sama), juga bercita-cita jadi penulis lepas.....

www.jojoayaqin.blogspot.com

 

Anonymous Anonymous said ... (Wednesday, 16 February, 2005) : 

situasi orang tentunya beda dengan situasi kita sendiri. mereka mungkin bapak-ibu yang berkarir dan berumah tangga. ato mungkin juga karena mereka punya 2 anak. tapi yang pasti jarang sekali (mungkin malah tidak ada) aku liat didunia orang tua yang tidak sayang anaknya.

hanya karena mereka memilih untuk menggaji orang lain, untuk mengurus kebutuhan2 kecil anak mereka tidak berarti mereka tidak perduli atau tidak sayang.

yang perlu diingat bahwa setiap orang punya cara dan jalan yang berbeda dengan cara dan jalan yang kita pilih, tapi itu bukan berarti kalo cara orang lain itu salah dan cara kita benar.

selain itu, hanya karena anak2 punya baby sitter, bukan berarti mereka akan menjadi "generasi yang tidak "beres" tingkah lakunya". 1001 sebab/alasan yang bisa membuat orang "tidak "beres" tingkah lakunya". lagi pula, dari semua generasi, selalu ada generasi yang seperti itu. jadi kesimpulannya = bukan hal yang baru.

 

Blogger Shendy said ... (Wednesday, 16 February, 2005) : 

dear mama Arwen.. aku mamanya Rai, sbg working mom, BS itu kebutuhanku..tapi kalo di rumah aku full ama Rai terus lho.. dan sekarang aku dah biasain kalo jalan2 ke mall or ke gereja kita bertiga aja without BS.. repot emang..jadi gak bisa lirik2 baju lama2.. but i really enjoy spending my time with my baby..

 

Anonymous Anonymous said ... (Thursday, 17 February, 2005) : 

susan:
artikelnya bagus banget..
aku setuju banget kl udah ada BS ibu2 cenderung keenakan dan ngga mau repot ....
aku dulu pengguna BS pas anak pertama, tp skrg anak ke 2 full time mother hehe...(sbtulnya krn terpaksa sih, tp ngga nyesel kok hehe)
emang beda sih...kadang2 capek dan stress juga ,tp ada kepuasan sendiri ya..tull ngga???
mampir dong...
rissaniel.blogspot.com

 

Anonymous Anonymous said ... (Thursday, 24 March, 2005) : 

Rahma (ayra_alby@cbn.net.id) :
salam kenal ya, Dita.., aku tau blog arwen dari WRM, aku suka artikel ini..tapi sebelum aku baca artikel ini, baru kejadian di-aku..,

aku, nggak pake BS cuma punya pbt yg 1/2 harian, anak2 dipegang ibuku selama aku ngantor, begitu pulang knt..atau hari2 libur, mereka sama aku, biar capeknya menggunung selama ini (alhamdulillah..) aku bisa selalu menemani mereka..,

tapi semalam, rasanya kehabisan tenaga abis nge-rodi kerjaan, ngantuk..capek berattt.., alby
(anakku yg kedua, 18bln) menangis..aku diemin aja.., hikss jadi sedih.., apalagi sehabis baca tulisan Dita..., moga2 alby mau maafin mamanya...

 

Anonymous Anonymous said ... (Sunday, 03 April, 2005) : 

Memang kalau aku perhatiin suka ada juga orang tua yang jadi secara ga sengaja atau sengaja keenakan dengan adanya BS.

Tapi ada juga orang tua yang pakai BS tapi nge handle anaknya tetep sendiri bukan BS nya yang pegang. Kalau ditanya .. jawabannya ternyata ... daripada ambil PRT untuk beresin rumah mendingan BS yang paling engga bisa lebih sadar kebersihan

Ada ibu2 yang lain lagi .. yang tadinya ga kerja, setelah punya anak malah pengin kerja .. katanya stress ngurusin anak tiap hari .. mau sekali2 lepas dari urusan anak dan ada pemandangan lain sambil digaji ... jadilah dia megang anak setengah hari .. setengah harinya lagi dia kerja dan bapaknya yang megang anaknya ...

untuk aku .. memang awalnya sulit bisa memantapkan keputusan berhenti kerja dan jadi ibu rumah tangga .. tapi sekali udah diputusin .. aku akan coba jalanin dengan segenap jiwa raga ... habis kesempatan seperti ini tidak akan ada re run nya kan .. heheheheh ...

 

post a comment