My Photo
Name:

A father of Arwen the elf, Leia the princess & Neo the one.

A husband of Dita the fairy.

This is the adventure of growing Arwen. It's all documented in pictures, written diaries, video documentary and music clip. Hopefully Arwen's friends can enjoy her unique and magical adventures, and especially by Arwen herself when she's grown up. Enjoy her Magical Mystery Tour!







Free shoutbox @ ShoutMix

Image hosted by Photobucket.com



Ngamen di Menteng - 29 Agustus 2006 21:35









Total : 13417 viewers

Proyek Sayang Arwen. 1063 viewers. - View mp4 movie


Kebiasaan Tidur yang Ajaib. 1242 viewers. - View mp4 movie


Operasi Plastik. 3065 viewers. - View mp4 movie


Petualangan Arwen. 1655 viewers. - View mp4 movie


Image hosted by Photobucket.comGitar Mainan Murah Meriah. 147 viewers.


Image hosted by Photobucket.comArwen dengan aksi kecup-kecup imutnya. 130 viewers.


Image hosted by Photobucket.comTerapung-apung. 166 viewers. - View mp4 movie


Image hosted by Photobucket.comArwen Ajojing. 417 viewers. - View mp4 movie


Image hosted by Photobucket.comLenong Asoy. 161 viewers - View mp4 movie


Image hosted by Photobucket.comIklan Korban Sindo. 137 viewers - View mp4 movie


Image hosted by Photobucket.comArwen bak Godzilla obrak abrik dunia. 140 viewers - View mp4 movie


Image hosted by Photobucket.comArwen ditendang Naya tepat di wajah


Image hosted by Photobucket.comArwen, Naya, Sarah & Luthfi as Charlie's Angels


Image hosted by Photobucket.comAdegan seronok Arwen di atas Ranjang




Arwen Bobok Sambil Berdiri!

Kegedean Topi Caps-nya

Reading a Book

Jacuzzi in the Garden

Arwen Pakai Sepatu Mamin

Get emailed with every update to Arwen's Video!
Email:
Powered by

pinodita's Profile Page



Powered by Technorati


 
B&N.com









Powered by FeedBlitz

Add to Technorati Favorites!



Creative Commons License

Listed on BlogShares

Blog Directory & Search engine

Blog Flux Directory

blog search directory

 View My Public Stats on MyBlogLog.com

Blogarama - The Blogs Directory

Powered by Blogger

Barnes & Noble.com

Monday, January 31, 2005

Kenapa Arwen Tidak Memakai Anting-Anting?




"Buruan lo pakein anting sekarang! Mumpung masih baby, blm terlalu sakit."
"Kok Arwen gak dipakein anting-anting?"
"Oooo..perempuan yah. Kirain cowok, abis gak ada anting-antingnya."


Ratusan kali pertanyaan-pertanyaan tersebut mampir di kuping kami. Biasanya saya akan menjawab, "Nanti aja kalo udah gede, biar dia putusin sendiri mau pake anting atau nggak."
Sebagian orang akan mengernyitkan dahi bila saya menjawab demikian, sebagian lagi menanggapinya sambil lalu.

Ada alasan tersendiri mengapa kami memutuskan untuk tidak memakaikan anting-anting pada anak kami. Pelajaran pertama baginya adalah, kami sebagai orangtua tidak mau memaksakan kehendak kami. Biarkan dia memutuskan sendiri jika harus menggunakan anting-anting nantinya. Kami menghormati haknya untuk memilih. Seperti juga orang dewasa, bayi mungil kami juga punya hak pribadi untuk "mendandani" dirinya dan untuk merasakan sakit atau tidak. Siapa bilang bayi belum bisa merasakan sakit saat ditindik?

Semua ini bukan semata-mata, kami tak tega melihatnya kesakitan saat ditindik. Bukan! Arwen adalah manusia yang terlahir dengan hak-haknya, walaupun ia belum bisa mengungkapkan perasaan, kami menghormatinya. Kami tak ingin memaksakan kehendak hanya demi ia terlihat seperti anak perempuan sebagaimana layaknya atau hanya demi alasan penampilan belaka. Toh, dengan tidak memakai anting-anting tidak akan menghambat pertumbuhan serta perkembangan fisik dan mentalnya.

Kalaupun suatu saat Arwen sudah bisa memutuskan sendiri untuk menggunakan anting-anting, dia akan belajar bahwa segala sesuatu yang diputuskan ada konsekuensinya. Paling tidak ia akan tahu rasanya "sakit" saat ditindik dan itu adalah keputusannya sendiri.

Friday, January 21, 2005

Kenapa Saya Berhenti Bekerja?



Dita Wistarini
, 27, Jakarta. Ibu dari Shaula Charmawendi (Arwen), 2 bln.
Pekerjaan terakhir : Produser Promo sebuah stasiun televisi swasta.
Alasan berhenti : Pekerjaan saya menyita hampir seluruh waktu, pikiran dan tenaga. Tuntutan bekerja mengejar tenggat waktu sangat tinggi. Tidak ada lagi 8 jam kerja sehari, sesuai dengan aturan Departemen Tenaga Kerja. Saya pulang, di saat orang-orang sudah beranjak ke peraduan. Bahkan di akhir minggu, bisa saja saya masuk kantor. Tidak ada lagi perhatian terhadap kondisi tubuh, yang sudah berteriak-teriak minta istirahat. Bayangkan jika di saat yang sama, saya harus juga mengurus bayi saya...
Tantangan terbesar : Awalnya benar-benar membuat stres. Saya adalah orang yang biasa bertemu dan bekerja dengan orang banyak, serta bersosialisasi secara aktif. Beberapa orang menyayangkan keputusan saya.Mereka selalu bertanya, "Mengapa harus berhenti bekerja?" atau "Kapan akan mulai berkarir lagi?" atau "Kasian deh, hidup lo cuman berakhir di rumah!" Terkadang saya lelah dengan pandangan miring mereka. Saya hanya tak ingin anak-anak saya dibesarkan oleh orang lain selain orangtuanya sendiri.
Kepuasan terbesar : Pekerjaan akan selalu ada di luar sana. Tapi perkembangan anak yang penuh kejutan dan sangat cepat hanya sekedip mata, tak akan bisa menunggu. Rasanya seperti kembali ke bangku kuliah dengan jurusan Psikologi Perkembangan Anak. Menyenangkan sekali bisa menemukan hal-hal baru. Saya ingin menikmati saat-saat di mana anak saya pertama kali tersenyum, mendengarnya memanggil "Mama!", menemaninya belajar jalan, melihatnya tumbuh dan yang pasti menatap matanya yang begitu bening dan berbinar saat melihat orangtuanya. Saya akhirnya menemukan bahwa untuk menjadi bahagia, uang bukanlah segalanya. Kebahagiaan terbesar adalah di saat mendengar orang berkata, "Wah, anaknya pintar sekali," atau "Anaknya terlihat bahagia ya." Dan yang terpenting, saya merasa bahagia bisa menjadi bagian terbesar di awal kehidupannya dan berperan membentuk dan mengarahkan kepribadian dan kehidupannya, Anda tahu sendiri bagaimana "kejamnya" dunia di luar sana. Begitu mudahnya anak-anak sekarang terjerumus dalam pergaulan yang tidak benar.
Rencana karir di masa depan : Saya memutuskan untuk kembali bekerja lagi menjadi penulis paruh waktu, sehingga saya tetap bisa mengawasi anak. Idealnya memulai usaha yang bisa saya kendalikan dari rumah.
Dulu saya harus berpikir sejenak jika seseorang menanyakan pekerjaan saya sebagai Ibu Rumah Tangga. Sekarang saya bisa berbangga dengan profesi terbaru saya ini dan saya akan mengatakan, "Sekarang pekerjaan saya adalah menjadi guru, pendamping dan pembimbing pribadi anak saya. Karena dia adalah prioritas dalam hidup saya, di samping suami tersayang."

"We are always too busy for our children; we never give them the time or interest they deserve. We lavish gifts upon them; but the most precious gift, our personal association, which means so much to them, we give grudgingly."(Mark Twain)

(Posted by Dita)

DIBUTUHKAN SEGERA!!

PELUANG KARIR

Sebuah Rumah Tangga yang sedang berkembang membutuhkan tenaga Anda sebagai :

MAMA/IBU/BUNDA/NYAK

KUALIFIKASI
Kandidat harus mampu bekerja dalam tim yang solid untuk jangka waktu yang sangat panjang, bahkan seumur hidup, siap menghadapi situasi kacau dan terburuk sekalipun. Memiliki ketrampilan berkomunikasi dan mengorganisasi. Bersedia dan siap menerima panggilan hadir 24 jam, pagi, siang dan malam. Serta siap menerima kenyataan tidak punya waktu untuk diri sendiri. Kemampuan akuntansi, mengajar anak, menyetir kendaraan, mengantar jemput, membayar tagihan, dan fisik yang sehat adalah sebuah nilai tambah.

TANGGUNGJAWAB
- Mengakali sebuah masalah dengan trampil.
- Bernegosiasi, mengatasi konflik dan krisis manajemen rumah tangga.
- Berpikir kreatif.
- Mengatur arus keluar masuk keuangan rumah tangga.
- Bersabar dan berbesar hati di saat anak-anak merasa benci dengan ibunya karena tidak dibelikan mainan.
- Memberitahukan suatu hal secara berulang kali, seperti "jangan lupa membuang sampah!" "cuci piringmu!" "kerjakan PR!", dsb.
- Memiliki stamina fisik yang baik, jika suatu saat harus berlari ke halaman menolong anak yang jatuh atau naik turun tangga memasang bola lampu yang putus.
- Mengasuh dan mendidik anak-anak.
- Pemahaman terhadap psikologi perkembangan anak adalah sebuah nilai yang sangat-sangat plus.
- Mengawasi pekerjaan rumah anak-anak.
- Mengorganisasi dan merencanakan pertemuan keluarga.
- Menjadi tempat mencurahkan perasaan.
- Siap diajak bertukar pikiran/berdiskusi.
- Mengatur arus dan distribusi logistik rumah tangga.
- Mengatur menu makan sehari-hari.
- Mampu merakit produk/gadget rumah tangga.
- Memiliki referensi dokter anak.
- Menguasai tips dan trik mengatasi pertolongan pertama terhadap kesehatan keluarga.
- Internet literate adalah nilai tambah (Anda bisa menemukan apa saja di dunia maya ini).
- Memiliki kemampuan dan spirit menghibur.
- Mampu menambah keuangan keluarga adalah nilai tambah.
- Harus selalu berharap yang terbaik dan siap untuk yang terburuk.
- Tanggungjawab juga meliputi perawatan kebersihan lantai, kamar tidur, dapur dan kamar mandi, serta halaman rumah.

KEMUNGKINAN PROMOSI & PENINGKATAN KARIR
Hampir tidak ada! Pekerjaan Anda menuntut Anda selalu berada pada posisi yang sama selama seumur hidup, tanpa boleh protes, dan secara konstan diharapkan terus memperbaharui ketrampilan-ketrampilan praktis dan manajemen rumah tangga.

PENGALAMAN
Tidak diperlukan. Perusahaan menawarkan praktek kerja lapangan secara langsung.

GAJI
Tidak ada, justru Anda yang bertanggungjawab terhadap masalah keuangan anak-anak, sampai mereka bisa mandiri secara keuangan. Dan ironisnya Anda akan merasa bahagia dan berusaha mengumpulkan dan menabung uang sebanyak-banyaknya demi masa depan anak-anak dan keluarga yang terbaik.

KOMPENSASI
Walau tanpa asuransi kesehatan, tanpa uang pensiun, tanpa bonus dan tanpa cuti, Anda berhak mendapatkan ciuman dan pelukan, keluarga yang harmonis, suami yang pengertian dan anak-anak yang manis, jika Anda menjalankan semuanya dengan baik dan benar.



"Motherhood: If it was going to be easy, it never would have started
with something called labor!" (Anonymous).

WELCOME TO MOTHERHOOD!!!

(Posted by Dita)

Thursday, January 13, 2005

Sekolah Tanpa Ijazah


Banyak yang bilang, tingkat kebahagiaan kita akan berkurang pada saat memiliki anak. Hidup tak lagi sebebas dulu. Mahluk kecil darah daging kita, menyita hampir seluruh perhatian dan tenaga. Tanggung jawab besar serasa menjadi beban di awal-awal kehidupan mereka. Di saat dunia terlelap, kita terbangun untuk mereka. Frustasi karena tangisan yang tak kita mengerti artinya dan tiada hentinya. Hidup kita seluruhnya didedikasikan untuk mereka. Tak ada lagi waktu untuk memikirkan diri sendiri. Tak ada lagi kongkow-kongkow di mal, menghabiskan uang tak karuan.Bahkan kita hanya perlu waktu 2 menit untuk mandi. Semuanya berubah. Untuk sementara panggung kehidupan sosial kita tertutup layar. Dan tiba-tiba kita merasakan pekerjaan yang sangat kompleks dan rumit.....mengurus mereka.



Sejak awal tangisan mereka membahana, kita belajar menjadi orangtua. Profesi yang tidak ada sekolahnya, tidak ada gelar dan tidak ada ijazahnya (saya menyebutnya sebagai jenjang S2, kemudian S3 dalam bidang psikologi perkembangan anak).
Kita belajar dari awal, dari hal-hal sederhana seperti mengganti popok, memandikan bayi sampai bagaimana merencanakan masa depan mereka, menentukan bagaimana peran kita dalam kehidupan mereka dan tipe orangtua seperti apa yang kita dan mereka harapkan. Beribu ekspektasi dan harapan-harapan yang baik-baik, kita panjatkan, demi pertumbuhan dan perkembangan anak.
Tetapi dibalik itu semua ada sebuah makna yang dalam artinya dan jauh lebih membahagiakan...hidup kita menjadi lebih berarti, kita belajar bagaimana mengartikan dan memahami hidup. Ingatan kita seperti diputar balik, mengingat kembali apa yang sudah dilakukan orangtua kita terhadap anak-anaknya. Betapa perjuangan hidup yang tiada hentinya. Saat ini, kita memang merasa kurang nyaman, frustasi dan kurang tidur, tapi kita juga harus percaya, suatu hari atau suatu saat, kita akan merasakan kegembiraan dan kecintaan memiliki seorang anak.
Seperti halnya pendidikan di sekolah, menjadi orangtua juga bisa sangat membingungkan dan sulit. Tapi menjadi orangtua mengajarkan kita untuk memahami orang lain, menyaksikan keajaiban dari perkembangan anak kita, belajar kesabaran, melayani dan yang utama belajar mencintai secara tulus apa adanya. Menjadi orangtua adalah pelajaran untuk menjadi manusia seutuhnya.




Menjadi orangtua, adalah pelajaran hidup dan profesi yang tidak akan pernah berakhir. Bahkan di saat malaikat kecil kita telah tumbuh menjadi dewasa, mereka masih mendengarkan, masih berkonsultasi dengan kita dan masih meminta kita untuk men-support mereka.

"A baby will make love stronger, days shorter, nights longer, bankroll smaller, home happier, clothes shabbier, the past forgotten and the future worth living for." (Anonymous)


(posted by Dita)

Saturday, January 08, 2005

Selamat Datang Naya!!

Image hosted by Photobucket.com
Hari ini, 7 Januari 2005, Ayah Eri dan Bubu Nonon berbahagia menyambut kedatangan Mallika Anaya (Naya), di RS Pondok Indah, jam 07.26 WIB.
Selamat datang di dunia ya, Naya!! Arwen dan Naya jadi temen seangkatan deh. Tapi teteeuupp Arwen lebih senior.

Thursday, January 06, 2005

Baby Blues ooohh Baby Blues

Masih segar dalam ingatan saya pengalaman melahirkan putri pertama kami. Saya mengalami proses yang cukup lama dan sulit, karena pembukaan mulut rahim saya tergolong lambat. Rasa lelahnya benar-benar tak terbayangkan dan tak bisa dijelaskan.

Tiga hari di rumah sakit, saya manfaatkan untuk memulihkan tenaga. Dan mulai “berkenalan” dengan peri kecil kami. Ketika tiba waktunya pulang ke rumah, mulai bermunculan pikiran-pikiran tak terkontrol yang memenuhi kepala saya. Ada rasa bahagia, rasa senang, rasa haru saat mendekap mahluk mungil ini, sekaligus bercampur dengan rasa tak mampu mengurus anak dan rasa lelah yang membuat saya sering menangis tiba-tiba, tak jelas penyebabnya. Awalnya saya tak menyadari apa yang saya alami ini. Saya hanya mencoba menangis sepuasnya di pundak suami saya. Lalu terlintas dalam pikiran saya, inikah yang namanya “baby blues”? Apakah saya mengalami “baby blues”?
Akhirnya saya berusaha mencari tahu. Ternyata saya tidak sendiri, hampir 80% wanita yang baru pertama kali melahirkan, pernah mengalami hal ini. Setidaknya kenyataan ini sedikit memperingan beban pikiran saya. Dan berkat dukungan dari suami beserta keluarga, saya berhasil melewati masa penuh haru biru itu.

Apa sih “baby blues” itu?
Kelahiran bayi membuat perubahan besar pada tubuh dan hidup kita. Cukup masuk akal kalau dikatakan bahwa penyebab utamanya adalah perubahan hormon-hormon yang drastis. Kadar estrogen dan progesteron turun mendadak setelah peristiwa kelahiran. Inilah yang disinyalir menjadi penyebab munculnya depresi atau “baby blues” atau biasa juga disebut postpartum blues alias sindrom depresi paska melahirkan.
“Jabatan” baru sebagai “new Mommy”, yang berarti pula tanggung jawab baru yang sebelumnya tak pernah kita bayangkan, membuat kita terkejut.
Keletihan setelah melahirkan ditambah lagi dengan kesibukan mengurus bayi, yang seakan tidak ada habisnya, makin membuat kita merasa tidak mampu memenuhi tuntutan untuk menjadi seorang Ibu.
Munculnya perasaan kehilangan diri kita yang dulu juga lazim dirasakan. Bersamaan dengan lahirnya bayi, kita merasakan tidak sebebas dulu lagi. Belum lagi masalah penampilan yang juga berubah. Sebelumnya kita gemuk karena hamil, sekarang kita hanya gemuk saja. Baju-baju sebelum kita hamil tidak ada yang muat lagi, sementara kita tidak ingin lagi mengenakan pakaian hamil.
Satu-satunya kenyataan yang menyenangkan adalah hal ini tak akan berlangsung lama. Paling-paling bertahan antara satu minggu hingga satu bulan.

Bagaimana kita tahu kita mengalami “babyblues”?
Gejala-gejala umum yang biasa dirasakan adalah :
1. kecemasan,
2. sedih atau perasaan kehilangan,
3. stres dan merasa tegang,
4. tidak sabaran dan mudah marah,
5. menangis tanpa sebab,
6. mood yang berubah-ubah,
7. sulit berkonsentrasi,
8. sulit tidur,
9. merasa lelah yang berlebihan,
10. tidak ingin keluar rumah, malas berdandan, dan malas membersihkan rumah.

Bagaimana menghilangkan sindrom ini?
“Baby blues” biasanya hilang dengan sendirinya. Bisa memakan waktu antara satu minggu hingga satu bulan. Beberapa hal yang dapat membantu kita melewati masa-masa ini adalah :
• Bercerita pada orang yang pernah punya pengalaman sama, atau pada orang yang kita percaya, seperti Ibu, suami, dan sahabat.
• Jika kondisi fisik kita sudah lebih baik, cari udara segar atau pergi refreshing bersama suami atau sahabat. Beri kesempatan pada diri kita sendiri untuk bisa merasakan kebahagiaan dan kesenangan.
• Ikut kelompok-kelompok seperti mailing list, yang bisa men-support kita.
• Minta para suami untuk membantu kita melaksanakan tugas sehari-hari dan libatkan dalam hal mengurus anak. Katakan pada mereka, bahwa kita butuh dukungan yang besar dari pasangan kita. Ceritakan pada mereka bahwa ini adalah pengaruh hormon dan tak akan berlangsung lama.
• Terima bantuan yang ditawarkan orang-orang di sekeliling kita. Semua orang pasti paham, mengurus bayi pertama kali adalah pengalaman yang cukup berat.
• Coba untuk tidur atau istirahat. Kurang tidur dapat memperparah keadaan ini. Minta bantuan Ibu atau saudara kita untuk menjaga bayi, sementara kita tidur.
• Tak usah berpikir semuanya harus sempurna. Bayi adalah prioritas kita saat ini. Jika tak sempat membereskan rumah, tak usah memaksakan diri. Toh, semua orang juga bisa maklum. Saat ini, kita harus melepaskan atribut kita sebagai mrs. Perfect, mrs. Neat, mrs. Clean, dll, yang dapat makin membebani kita.
• Makan makanan sehat. Beri tubuh kita nutrisi yang baik, apalagi kalau kita menyusui bayi kita.
• Cintai diri kita sendiri. Menjadi Ibu dan melahirkan bayi adalah anugerah terindah yang pernah kita rasakan. Berbanggalah dengan “profesi” baru ini.

Depresi paska melahirkan yang parah, yang memerlukan terapi profesional, sangat jarang terjadi. Bila depresi ini berlangsung lebih dari sebulan, disertai kesulitan tidur, kurang nafsu makan, perasaan putus asa, keinginan untuk bunuh diri dan dorongan untuk menyakiti bayi sendiri, segeralah cari bantuan profesional. (Dita)

Referensi :
1. www.thefamilycorner.com
2. Waiting for Bebe : A Pregnancy Guide by Lourdez Alcaniz.
3. What to Expect When You’re Expecting by Arlene Eisenberg, H. Murkoff, Sandy E. Hathaway.

Wednesday, January 05, 2005

Selamat Datang Bhagas!!

Image hosted by Photobucket.com
Hari ini, 4 Januari 2005, Papa Adi dan Mama Lala berbahagia menyambut kedatangan Bhagaskara Pandya Narayana (Bhagas) , di RSIA Hermina Jatinegara, jam 19.25 WIB.
Selamat datang di dunia ya, Bhagas!! Arwen dan Bhagas jadi temen seangkatan deh.

Monday, January 03, 2005

The Growing Arwen 2

BULAN KEDUA
Seru dan hebohnya hari-hari pertama kehidupan Arwen, lewat sudah. Memasuki bulan kedua berbagai bentuk ketegangan dan stres yang kami alami sudah jauh berkurang. Sedikit demi sedikit kami mulai bisa memahaminya, begitu pula Arwen, sudah mulai dapat beradaptasi dengan kehidupan barunya di luar rahim.

Hari-hari penuh tetes air mata kelelahan dan ketidakmengertian telah berlalu :-) Tergantikan dengan "kejutan-kejutan" baru, yang tak jarang mengundang senyum dan tawa.


Jadwal minumnya sudah mulai teratur, setiap 3-4 jam sekali, begitu juga dengan jam tidurnya. Bahkan di malam hari, waktu tidurnya bisa lebih panjang sampai 6 jam. Di minggu ketiga, Arwen tidak minum ASI lagi, jadi sekarang full susu formula. Tangisannya mulai berkurang, tidak cengeng lagi. Mulai sering minta diajak main dan ngobrol. Tatapannya semakin berbinar-binar, ekspresinya bermacam-macam, tak jarang ia tersenyum, membuat kami tertawa melihatnya.

Dan tampaknya ia mulai mengerti diajak berkomunikasi. Karena dari mulut kecilnya mulai keluar suara-suara lucu. Dan yang lebih menenangkan, ia sudah bisa tidur sendiri tanpa harus selalu digendong.
Di minggu kedua, berat badannya mencapai 4,2 kg dengan panjang 53 cm dan mendapatkan suntikan hepatitis B. Lendir di saluran pernafasannya sudah jauh berkurang, sehingga ia sudah dapat bernafas melalui hidung.
Arwen masih suka gumoh, tapi sudah mulai berkurang, tidak sesering bulan sebelumnya. Perkembangan motoriknya pun berkembang pesat. Ia sudah mulai kuat mengangkat kepalanya, dapat menggenggam sesuatu dengan lama.

Gerakan tangan dan kakinya banyak dan kuat. Bahkan bapaknya sendiri jadi korban seperti terlihat di foto pada saat Arwen ngamuk. Ia juga berusaha memasukkan jari-jari tangan ke mulut. Pergerakan mata ke kiri, ke kanan, atas dan bawah mulai dapat dikoordinasikan dengan baik.
Memasuki usia 7 minggu (minggu ketiga di bulan kedua), Arwen mengalami masa-masa cengeng sekali. Sedikit-sedikit nangis, selalu minta digendong. Phhuuuiiihhh...tak terkira lelahnya, karena ia tidak mau tidur sendiri. Hanya mau tidur dalam gendongan dan pelukan. Hal ini sempat membuat kami kewalahan. Kami berusaha mencari sebabnya, dengan cara browsing di internet ataupun hunting ke toko buku. Setelah cari sana sini akhirnya kami menemukan penjelasannya di www.babycenter.com. Di situ diceritakan berbagai kisah orangtua yang mengalami hal serupa (leganya!).

Dijelaskan bahwa. memang di minggu ke-8 sampai ke-12 kehidupan awal seorang bayi adalah puncak-puncaknya saat rewel dan cengeng. Cara-cara mengatasinya pun dijelaskan. Selain itu, kami juga membeli buku karangan dr, Harvey Karp, berjudul The Happiest Baby on The Block (the must have book 4 the nu mommy and daddy). Ia menjelaskan berbagai cara menenangkan bayi. Pokoknya benar-benar bisa meng-encourage kami!
Thanks God di akhir minggu ke-8, rewelnya jauh berkurang dan menjadi baby yang menyenangkan.
RECOMMENDED BOOKS AND WEBSITE
1. The Happiest Baby on The Block, The New Way to Calm Crying and Help Your Newborn Baby Sleep Longer, karangan Harvey Karp, M.D.
2. Brain Games for Babies, Toddlers & Twos, 140 fun ways to boost development, karangan Jackie Silberg.
3. The Complete Book of Mother & Baby Care, karangan Elizabeth Fenwick.
4. Seri Ayahbunda : Serba-serbi Bayi Baru, Buku Pegangan untuk Pengasuhan Bayi Baru Lahir.
5. www.babycenter.com
6. www.parents.com